Bazaar WHO dan Marche de Noel AIJ

Untuk ketiga kalinya AIJ akan ikut berpartisipasi dalam Solidarity Fair yg sudah bertahun-tahun di selenggarakan oleh World Health Organization (WHO). Beberapa persen dari hasil penjualan disumbangkan ke WHO utk proyek-proyek kemanusiaan.

Tahun ini Solidarity Fair diselenggarakan pada tanggal 11 Desember 2013, kunjungilah stand AIJ.

Pada kesempatan ini pula, group angklung Le Sangkuriang akan tampil.
Selain itu kami ingin mengajak kembali bagi teman-teman ingin ikut partisipasi / berjualan pada tanggal 15 Desember 2013, dimana AIJ akan mengadakan “Marche de Noel”
Bertempat di : Salle de la Paroisse du Petit-Saconnex, 1. Place du Petit Saconnex, 1209 Jenewa
Waktu : 12.30 – 18.30
Baik dalam bentuk :
1. makanan
2. kain/baju
3. kerajinan/dekorasi
4. Lain-lain
(tolong sampaikan ingin berpartisipasi dalam bentuk apa)
 harap segera menghubungi Wasih atau asosiasiindonesiajenewa@gmail.com
marche de noel A4 dimanche

Hope after Haiyan

Beberapa hari lalu, Filipina tertimpa bencana badai yang terbesar, yang menimbulkan ribuan korban jiwa.

Untuk itu di badan-badan internasional di Jenewa, digalangkan pengumpulan dana, seperti di WHO dan ITU dalam bentuk penjualan makanan pada hari Jumat tanggal 15 November 2013.

Sebagai tanda solidaritas, maka komite AIJ mengambil keputusan untuk ikut serta menyumbangkan 100chf melalui Lizzy Tecson focal point WHO di mana dana yang terkumpul  – 50% akan dikirim ke WHO Regional Office Manilla kepada WPRO Staff Association dan 50%  ke Red Cross (VERF).

Apabila ada anggota AIJ yang ingin ikut memberi bantuan bisa melalui diantaranya Philippine Red Cross (http://www.redcross.org.ph)

 

Membatik dengan Canting bersama Ririe

Pada tanggal 10 Oktober 2013, diadakan workshop membatik di ruangan nusantara PTRI Jenewa bersama Ibu Yudhinia Venkanteswari (Ririe).

Dimulai dari menggambar pola, pengenalan canting dan pemakaiannya, nembok (menutup bagian-bagian pola yang akan dibiarkan berwarna putih menggunakan malam) hingga proses perendaman kain dan nglorod (menghilangkan lilin batik menggunakan air mendidih).

Disela dengan camilan, riuh rendah gelak tawa, para peserta workshop bersemangat untuk mempelajari cara membatik.

“makanya, lain kali jangan nawar,” ujar salah satu peserta…. karena ternyata membatik itu tidak semudah yang dibayangkan.

Tak terasa waktu telah beranjak larut malam, dan para peserta membawa pulang hasil karyanya masing-masing.

Foto-foto lengkap bisa disimak di: Liputan Membatik (klik disini)

batik_IMG_8299 batik_IMG_8280 batik_IMG_8279 batik_IMG_8256   batik_IMG_8329 batik_IMG_8327 batik_IMG_8325      batik_IMG_8321batik_IMG_8371batik_IMG_8370

Membatik dengan Canting bersama Ibu Yudhinia Venkanteswari (Ririe)

batik

AIJ akan mengadakan Pelatihan membatik dengan cantik, yang akan dilaksanakan pada :

Hari Kamis

Tanggal 10 Oktober 2013

Jam : 18.00 – 21.00

Tempat : Ruang Nusantara, PTRI

Yudhinia Venkanteswari

Dikenal dengan panggilan akrab Ririe, beliau sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan otomotif dan suka jalan-jalan serta menulis. Salah satu tulisan yang sudah dibukukan berjudul “Jalan-jalan Hemat ke Eropa”, terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama.

(http://www.gramediapustakautamas.com/buku-detail/84882/Jalan-Jalan-Hemat-ke_Eropa).

Selain menulis, Ririe, memiliki hobby unik, yakni membatik dengan canting. Dari hobbynya ini, beliau pernah mempresentasikan tentang Batik Indonesia di Tokyo Jepang, pada acara Pecha Kucha Tokyo (http://www.pechakucha.org/presentations/indonesian-batik).

Detail Program Pelatihan

18:00 – 18:30 perkenalan diri, pengenalan peralatan untuk membuat Batik Indonesia (malam, kain, canting, dll)

18:30 – 19:30 membatik bergantian oleh beberapa member yang tertarik

19:30 – 20:00 pencelupan kain batik ke pewarna dan pelorodan (merebus kain yang sudah diwarnai supaya lilin luruh) –> optional

20:00 – 21:00 potluck dinner, ramah tamah sambil menunggu kain kering

Rafting AIJ, 31 Agustus 2013

photo10 photo3 photo5 photo6

rafting_DSCF0427

Di suatu hari yang cerah, di akhir bulan Agustus, 25 orang menguji nyali sambil menikmati keindahan alam di sungai la dranse, Thonon Les Bains. Campur aduk perasaan antara seru, semangat, panik, dan geli  – sambil membayangkan makanan lezat yang menanti – jarak tempuh 10km terasa singkat dilalui dengan penuh gelak dan tawa.

Kedua puluh lima orang ini di temani anggota keluarga dan anggota AIJ lainnya, acara di tutup dengan piknik bersama dengan makanan rupa-rupa yang menggugah selera.

Terima kasih untuk teman2 semua atas kebersamaannya, mohon maaf apabila ada kesalahan. sampai ketemu lagi di acara AIJ yang berikutnya.

Photo2 lengkap ada di http://www.flickr.com/photos/asosiasiindonesiajenewa/sets/

rafting_DSCF0331foto15 foto16DSCF0281   rafting_DSCF0333 rafting_DSCF0336 rafting_DSCF0337 rafting_DSC8276rafting_DSCF0347 rafting_DSCF0348 rafting_DSCF0354  foto14DSCF0283 DSCF0281 rafting_DSCF0358rafting_DSCF0356rafting_DSC8279rafting_DSC8277DSCF0287 rafting_DSC8283rafting_DSC8281rafting_DSC8336rafting_DSC8386rafting_DSC8380  rafting_DSC8300 rafting_DSC8348 rafting_DSC8378  rafting_DSC8363 rafting_DSC8404 rafting_DSC8411 rafting_DSC8408 rafting_DSC8305   rafting_DSC8401 rafting_DSC8354 rafting_DSC8344 rafting_DSC8286  rafting_DSC8289  rafting_DSC8357DSCF0303 _DSC8313 _DSC8324     rafting_DSCF0415  foto13 rafting_DSCF0426   foto1   foto19 foto18DSCF0318 DSCF0315 DSCF0314 DSCF0313DSCF0309foto2DSCF0320foto20

Introduction to Bali Dance by Biang Bulantrisna Djelantik

bali_IMG_2214

“Call me Biang, it means mother or aunty.. ” she said… with the calm voice and in a very informal manner, she introduced herself  to us.  On 9th of June 2013, AIJ had been honored to have Biang Bulantrisna Djelantik taught about Bali dance at Nusantara room – PTRI, Geneva.

Bulanstrina is direct descendant of the king of Karangasem in Bali, and dedicates her work to preserving, protecting and practicing the Balinese dance form known as Legong dance. She had learned to dance since 7th years old, then she began learning legong when she was 9 years old.  She came to Geneva for her work, as she is also a doctor and often comes to Geneva for WHO meetings. But in her spare time, she was willing to teach some members of AIJ some basic steps and moves of Bali dance, and of “Joged Bumbung” .

She expressed her worrines of the misinterpretation of  Joged bumbung.  She wants to preserve and make it known as it supposed to be which is for traditional ceremony in the villages after harvest season. The dance use Gamelan music style of Bali on instruments made primarily out of bamboo. Although with great difficulties, we enthusiastically tried to follow her moves … with lots of inevitable laughers…

During the break she shown some slides about Legong dance. According to Bulanstrina, the legong is difficult to learn, but it is at the root of all Balinese dances. “I practice legong Peliatan,” Bulantrisna said referring to the region in Bali where she studied.

Her passion eventually led her to establish Bengkel Tari Ayu Bulantrisna, a dance workshop dedicated for young woman interested in learning legong, in Bandung in 1994, and another was opened in Jakarta. Bulantrisna is now collaborating with her fellow dancer and good friend, Retno Maruti. Maruti is well-known traditional Javanese dancer. Both produced “Calonarang” that mixed Javanese bedaya dance and legong.

Currently she is also promoting to make nine traditional Balinese dances for recognition by the UNESCO as an intangible cultural heritage.

http://bengkeltari.blogspot.fr/2007/12/ayu-bulantrisna-djelantik-menari-otak.html

bali_IMG_2161 bali_IMG_2163bali_IMG_2167 bali_IMG_2168 bali_IMG_2169 bali_IMG_2170 bali_IMG_2171 bali_IMG_2172 bali_IMG_2173 bali_IMG_2174 bali_IMG_2175 bali_IMG_2176 bali_IMG_2177 bali_IMG_2178 bali_IMG_2179 bali_IMG_2180 bali_IMG_2181 bali_IMG_2182 bali_IMG_2183 bali_IMG_2184 bali_IMG_2185 bali_IMG_2186nur6 nur1 nur2 nur3 nur4 bali_IMG_2187 bali_IMG_2188 bali_IMG_2190 bali_IMG_2191 bali_IMG_2192 bali_IMG_2193 bali_IMG_2194 bali_IMG_2195 bali_IMG_2196 bali_IMG_2197 bali_IMG_2198 bali_IMG_2199 bali_IMG_2200 bali_IMG_2201 bali_IMG_2202 bali_IMG_2203 bali_IMG_2204 bali_IMG_2205 bali_IMG_2206 bali_IMG_2207 bali_IMG_2208 bali_IMG_2209 bali_IMG_2210 bali_IMG_2211 bali_IMG_2218 bali_IMG_2219 bali_IMG_2220 bali_IMG_2221 bali_IMG_2222 bali_IMG_2223 bali_IMG_2224 bali_IMG_2225 bali_IMG_2226 bali_IMG_2228 bali_IMG_2229 bali_IMG_2231 bali_IMG_2233 bali_IMG_2234    bali_IMG_2165 bali_IMG_2166nur5 bali_IMG_2211 bali_IMG_2214 bali_IMG_2215 bali_IMG_2216 bali_IMG_2217bali_IMG_2235bali_IMG_2159 bali_IMG_2160

Photos by : Cessy, Nur Hertanto, Harun

Karya Fotografi di Acara Pameran AIJ

Pada pameran AIJ tanggal 25 Mei 2013 yang baru lalu, ada 16 fotografer member AIJ yang berasal dari Jenewa dan Bern yang berpartisipasi, yakni:

1. Edi Yusup

2. Senny Syahfinar

3. Dadung Nugroho

4. Hady Sutriesno

5. Tina Sutriesno

6. Nur Hertanto

7. Heru Fathurohman

8. Harun

9. Renatha Harun

10.Try Wiyono

11. Etty Muller

12. Dadan Wardhana

13. Chandra Novianto

14. Yasmin Afina

15. Hedi Priamajar

16. Cessy Karina

Selain 42 karya yang di pajang di dinding, ada beberapa yang di letakkan di meja dan ada beberapa yang diberikan sebagai hadiah hiburan tombola.

edi3 edi2 hady3   harun3 edi1 DSC_0144  try3 tina3 tina4 DWHS-20100806061_cr-qf etty3  etty2 dadung1  dadung2 try2 senny3  ck2    tina5   try1 nur3  hady2 rena2 rena3 ck3 nur2 harun4 SONY DSC SONY DSC chandra1 senn2 tina2 nur1 yasmin1 ck1 heru1  yasmin2  hedi1 tina1 hedi2  ck4   harun1Shine on Tulips   Flowers in water dropletsenny4   senny1  rena4   dadan3 harun2 heru2 hady1  etty1 heru3 rena1  DSC_1398s-Good_Morning_Indonesia

Memperkenalkan Keanekaragaman Budaya Indonesia di Jenewa


17238677_172668
           D8D_2373

Pada tanggal 25 mei 2013 yang baru lalu, untuk pertama kalinya AIJ mengadakan pameran di  Jenewa.  Didukung oleh Kedutaan Besar RI di Bern dan Perwakilan Tetap RI di Jenewa,  pameran ini diselenggarakan untuk memfasilitasi dan memperkenalkan bakat-bakat anggota AIJ di bidang seni seperti fotografi,  kerajinan, perhiasan, jahit, tari dan lain-lain, serta kuliner, yang tujuan akhirnya memperkenalkan keanekaragaman budaya indonesia dan juga sarana bertemu, bersatu, masyarakat indonesia dan non-indonesia yang cinta Indonesia.

Kesibukan dimulai dari sebelum pukul 8 pagi di tengah hujan dan suhu sekitar 4 derajat celcius.

senny6senny8senny517238677_171805 senny3 senny10   17238677_17180317238677_171829 senny2  17238677_171832 17238677_171823 senny20 D8D_2921

Pada acara pembukaan, Ketua AIJ Chinny Pahud menyampaikan rasa kebanggaan dalam menyelenggarakan dan membukanya bersama-sama dengan Duta Besar Watapri untuk Jenewa, Bapak Triyono Wibowo, Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss di Bern, Bapak Djoko Susilo, dan Walikota Grand Saconnex, Jean-Marc Comte.

SONY DSC17238677_172018SONY DSCsenny1 17238677_171992 rena17238677_172044 17238677_172051

“Saya bangga dengan AIJ yang senantiasa berupaya mengenalkan keanekaragaman budaya Indonesia ke dunia luar khususnya kepada Swiss. Kegiatan pameran ini yang menampilkan beberapa sisi budaya Indonesia merupakan contoh konkrit komitmen kuat dan cermin kecintaan AIJ pada nilai-nilai budaya Indonesia, serta juga merupakan salah satu bentuk diplomasi budaya Indonesia,” tutur Dubes Triyono Wibowo dalam sambutannya.

Sementara Dubes Djoko Susilo menyampaikan bahwa KBRI Bern akan senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan yang positif dalam rangka mempromosikan Indonesia di Swiss. Selain itu, kegiatan seperti ini dapat meningkatkan jalinan kerjasama dan persahabatan antara Indonesia dan Swiss. Senada dengan itu, Walikota Grand Saconnex, Jean-Marc Comte, menyampaikan bahwa di wilayahnya yang nota bene 45% di antaranya adalah pendatang, beliau selalu menyambut baik acara pameran kebudayaan dalam rangka mendukung semangat multikultural di wilayahnya.

Salle de Saconnay di mana pameran ini berlangsung  disulap sehingga bernuansakan Indonesia berkat kain-kain nusantara berupa kain-kain tenun dan batik dengan motif yang berwarna-warni dari berbagai pelosok nusantara yang dipinjamkan oleh Ibu Moeliek Wibowo. Selain itu di sepanjang dinding ruangan, terdapat 42 fotografi karya 16 anggota AIJ yang bermukim di Jenewa dan Bern, termasuk Bapak Duta Besar Edi Yusup, yang menampilkan keindahan alam Indonesia dan Swiss.

senny15senny7rena4rena3D8D_2916 D8D_2362

Untuk memuaskan hasrat kuliner pengunjungnya, ada beberapa stan menjajakan penganan khas Indonesia dimulai dari Nasi Gudeg, Somay, Pempek hingga sambal rica-rica dan rempeyek, dan juga jajanan pasar semacam Putu Ayu, Kue Pukis, dan lain-lain, yang biasanya sulit dijumpai di Swiss. Buat pengunjung yang hendak membuat masakannya sendiri, dijual pula bumbu-bumbu khas Indonesia. Namun tak hanya penganan Indonesia, pengunjung juga bisa merasakan kue-kue khas Swiss, seperti bricelets dan meringues.

SONY DSC SONY DSC senny9senny21 17238677_171932 17238677_172577 17238677_172609 17238677_171897 17238677_171903   senny24 D8D_2913 D8D_2897 17238677_171862  D8D_2398

Para pengunjung juga diberi kesempatan untuk mendapatkan berbagai hasil kerajinan tangan dan baju-baju batik, bordir, serta buah karya anggota AIJ sendiri yang berbakat dalam bidang jahit menjahit. Sementara itu di salah satu pojok ruangan terdapat studio foto kecil hasil kerja sama AIJ dan Darma Wanita Persatuan PTRI Jenewa yang memberikan kesempatan para pengunjung untuk memperoleh kenangan berupa foto diri dengan baju tradisional dan make-up Indonesia. Ternyata sambutan pengunjung untuk berfoto ini sangat besar, sehingga mereka rela mengantri untuknya.

17238677_172477 senny4 petitpas patitpas2 D8D_2563

D8D_2404D8D_2381 cessy2 senny16 cessy1 D8D_2457 hedi16rena2 tina hedi2 hedi3

Dalam pameran ini juga ditampilkan tarian Bali Taruna Jaya yang dibawakan oleh Lia Bruckl dan tarian Jawa Wira Pertiwi oleh Chinny Pahud yang mendapat sambutan meriah dari para pengunjung, serta tidak ketinggalan tarian Poco-poco yang ditarikan bersama-sama dengan pengunjung.

SONY DSC D8D_2324 D8D_2634 D8D_2661 SONY DSC D8D_2780 D8D_2828 D8D_2817

Meskipun cuaca tidak mendukung, karena hujan dan dinginnya udara yang tidak biasanya terjadi di akhir bulan Mei, namun tidak menyurutkan semangat datangnya pengunjung yang tidak hanya terdiri dari masyarakat Indonesia di Jenewa, Bern  dan sekitarnya, tapi juga warga Jenewa yang tertarik untuk datang memeriahkan acara yang berlangsung dari pukul 11 hingga pukul 18. Mengutip Ibu Senny Syahfinar, salah satu anggota AIJ, ketika berlangsungnya acara pameran ini, yang menyampaikan kebanggaan dan kebahagiaannya atas suksesnya acara yang sifatnya  “dari kita untuk kita” .  Bahkan ada pengunjung yang tidak mau disebutkan namanya yang mengungkapkan usulnya agar acara ini berlangsung lebih sering tidak hanya satu kali setahun dan tidak hanya satu hari.

Di penutup acara, di umumkan pemenang utama hadiah door prize berupa menginap di Villa Champery, Foto dedikasi Pak Edi Yusup, dan voucher. Selain hadiah-hadiah utama tersebut, pengunjung juga mendapatkan beberapa hadiah hiburan sumbangan peserta pameran seperti foto, kerajinan dan lain-lain.

senny2 17238677_172355 17238677_172280 17238677_17228317238677_171921 SONY DSCsenny13 D8D_2841 17238677_172451 D8D_2449D8D_2745

D8D_2764 D8D_2755

Kepada pemenang menginap di Villa Champery, sang pemilik villa Luc Defago berujar, ” voici les heureux gagnants du 1er prix Tombola! Nous nous réjouissons de les accueillir à Champéry! au chalet les Croix”

luc

Sampai ketemu di acara AIJ selanjutnya

17238677_172512 17238677_172575 17238677_172516 17238677_172520 senny23 17238677_172527  D8D_2895 D8D_2911 D8D_2396

D8D_2944

D8D_2959 D8D_2950

Foto-foto oleh : Heru Fathurohman, Dadan Wardhana, Senny Syahfinar, Tina Sutriesno, Hedi dan Harun

senny11 D8D_2483 D8D_2466 D8D_2621

Pameran AIJ, 25 Mai 2013

Poster Eng ver. 02 - A5 

Poster Fra ver. 02 - A5Poster Eng ver. 02 - A5Poster Ind ver. 02 - A5

Tujuan

  1. Fasilitasi dan memperkenalkan bakat-bakat anggota AIJ di bidang seni (fotografi, lukis, handycraft, perhiasan, jahit, dll).
  2. Sarana bertemu, bersatu, masyarakat indonesia dan non-indonesia yang cinta Indonesia.
  3. Memperkenalkan budaya Indonesia.

 Tanggal dan Lokasi

Sabtu, 25 Mai 2013, di Salle de Saconnay, Ferme Sarasin, Chemin Edouard-Sarasin 47,

CH – 1218 Le Grand-Saconnex

map

 Picture1 Picture2     

 Karya Pameran

  1. Fotografi (tema: Indonesia atau Swiss)
  2. Lukisan
  3. Art
  4. Kerajinan atau Handicraft

Program Acara

08.00 – 11.00 Persiapan

11.00 – 11.30 Pembukaan/Vernissage disertai pertunjukan tari bali oleh Lia Bruckl, Teruna Jaya

11.30 – 18.30 Pameran

15.00 Pertunjukan tari oleh Chinny Pahud dan poco-poco

18.30 – penutupan

Target Pengunjung

 Masyarakat Indonesia dan masyarakat umum di Swiss dan sekitarnya .

Pengunjung tidak dikenakan biaya masuk.

AIJ goes to Leysin, Oxygene des Alpes

Tanggal 23-24 Maret 2013 yang baru lalu, kegaduhan membahana di bumi Leysin …

Leysin yang dijuluki “Oxygene des Alpes” , terlihat sunyi, damai dan tentram ketika convoy AIJ memasuki desa tersebut, namun dalam sekejap suasananya berubah menjadi hangat dan seru suasananya.

leysin5

Makanan banyak dan Lezat hasil karya master chef, top chef a domicile, hiking dan berfoto ria di atas dataran les moses yang tinggi saljunya melebihi tinggi badan – hingga membuat para hikers amatir AIJ ” tenggelam”  di dalam salju,  diskusi seru dan penuh informasi, nonton bersama film Habibie dan Ainun yang membuat tertawa dan nangis hingga bengkak mata ke-esokan harinya, serunya ber-seluncur dengan toboggan, ski di tengah kabut, dan akhirnya ditutup permainan Jenga yang mendebarkan hati.

Benar-benar seru, fun dan heboh. … sungguh kebersamaan yang menghangatkan hati …

Photos by: Senny, Hanny, Dadan, Hedi dan Cessy

leysin1

senny22

leysin3leysin2 leysin35 leysin34 leysin33 leysin32 leysin31  leysin4  senn3DWHS-20130323013leysin6 leysin7 senny1senny2DWHS-20130323005DWHS-20130323008DWHS-20130323009tambah3senny4DWHS-20130323030leysin8 leysin9 leysin10 leysin11 DWHS-20130323082DWHS-20130323086leysin12DWHS-20130323079 leysin21 leysin20 leysin19 leysin18 leysin17  leysin15 leysin14 leysin13 leysin30 leysin29 leysin28 leysin27 leysin24 leysin23 hani2DWHS-20130323130 hani3 hani4 hani5 hani6 hani7 hani8 hani9 hani10 hani11 hani12 hani13 hani14 hani15photo7 hani16  hani18 hani19    tambah4 senny5 senny6 senny7 senny8 senny14senny9 DWHS-20130323143_cr_cbsenny10 senny11 senny12 senny13  senny15 senny16tambah2 DWHS-20130324034tambah1senny18 senny19 photo1photo2photo6photo5photo3photo4DWHS-20130324023senny20hani17senny21